Title: The Mystery of Chocolate
author: Vi
Cast: Seohyun-SNSD
EXO
Other cast: find by yourself
Rating: T
Genre: Fantasy, Adventure, Mystery , Friendship, Little bit –Romance—
Disclaimer: cast cuma minjem
author
note: ff ini terinspirasi oleh bbrp ff lain , manga , anime, ada juga
yg sesuai imajinasiku. Mian lama, aku emg suka bingung sendiri kalo buat
FF Genre Fantasy gini >w< btw, aku masih gak tau mau siapa yang
jadi pairing Seohyun untuk romance-nya. Ada yang mau kasih usul ?
Sorry for bad fanfic and story
published: exoshdiaefanfic, snsdfanficindo
*****
Seohyun
dan ke-12 lelaki itu masih saja berjalan di sepanjang kota sepi
tersebut. Seohyun seringkali merasa ngeri dengan kota sepi ini, ia
memang tidak terbiasa dengan suasana sepi karena ia sering dikelilingi
oleh teman-temannya.
“H-hey, kapan kita bisa keluar ?” tanya Seohyun tergagap sambil melipat tangannya.
“Hmm,
ini membutuhkan waktu cukup lama. Memangnya ada apa ?” tanya Chen yang
mendengar pertanyaan Seohyun barusan. Seohyun terdiam lalu menatap
jalanan berbatu yang ia pijaki. Ketika mendengar jawaban Chen , ia
merasa cemas jika mereka semua tidak bisa keluar.
“Bagaimana jika kita tak bisa keluar ?” tanya Seohyun lirih. Chen terdiam sejenak kemudian tertawa kecil dan merangkul Seohyun.
“Tenanglah,
aku yakin semua pasti akan baik-baik saja. Buktinya dulu kami bisa
keluar kan ?” kata Chen sambil tersenyum lalu mengusap rambut seohyun
lembut. Tingkah laku Chen menandakan bahwa kini ia tengah berperan
sebagai kakak yang baik pada Seohyun walau sebenarnya ia tak sadar kalau
Seohyun itu lebih tua darinya.
Seohyun
menghembuskan nafas lega mendengar ucapan Chen, ia kembali berjalan
dengan kecepatan yang bisa dibilang lumayan agar ia bisa cepat keluar
dari kota ini.
BRUK
“Ahhh..”
Sehun berteriak kesakitan ketika ia tersandung di jalanan berbatu itu
dan terjatuh sehingga lututnya mengeluarkan darah.
“S-Sehun
? Kau baik-baik saja ?” tanya Luhan yang merupakan salah satu teman
terdekat Sehun. Seohyun yang berjalan di belakang Xiumin yang kebetulan
berjalan di belakang Sehun pun berjalan mendahului Xiumin untuk melihat
keadaan Sehun.
“Hey, kau baik-baik saja ?” tanya Seohyun.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawab Sehun sambil mendorong Seohyun yang tadi bermaksud mendekatinya dan membantunya.
“Kau
bisa berdiri ?” tanya Seohyun. Sekalipun sudah didorong oleh Sehun,
gadis itu tetap dengan rasa cemasnya terus menanyai keadaan Sehun. Sehun
hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis ini.
“Tenang
saja, aku bisa berdi- Aww !” Ketika Sehun hampir menegakkan tubuhnya ,
tiba-tiba saja ia kembali terjatuh. Sepertinya kakinya sulit digerakkan
karena lukanya memang cukup parah.
“Aigoo,
Sehun-ssi ! Lukamu cukup parah, kau tak bisa melanjutkan perjalanan
kalau seperti ini. Ini harus segera diobati,” kata Seohyun sambil
menatap cemas pada luka di kaki Sehun. Sehun meringis sakit tiap kali ia
berusaha untuk menggerakkan kakinya.
“Hey,
apakah di daerah sini ada rumah atau semacamnya ?” tanya Seohyun sambil
menoleh kearah beberapa lelaki lainnya. Xiumin tampak mengerutkan
dahinya dan berusaha mengingat-ingat tempat yang pernah ia lewati.
“Ah kurasa sekitar 20 M dari sini ada desa kecil. Seingatku kami pernah kesana,” kata Xiumin sambil tersenyum.
“Ah
, kalau begitu perjalanan kita , kita lanjutkan besok saja. Sekarang
luka Sehun harus diobati sebelum nanti menjadi lebih parah,” kata
Seohyun. Ke-11 lelaki tersebut pun mengangguk, kemudian Kris dan Luhan
membantu Sehun untuk berjalan –karena keduanya termasuk yang paling tua
diantara mereka , sedangkan Xiumin harus mencari desa tersebut–.
Ke-12
lelaki tersebut dan Seohyun sudah berjalan cukup jauh namun karena
kabut yang menutupi pandangan mereka , mereka agak kesulitan mencari
desa di tempat tersebut.
“Dimana
desanya ?” tanya Seohyun. Xiumin berlari kecil dan memicingkan matanya
untuk mencari desa yang pernah ia dan teman-temannya kunjungi. Kedua
mata Xiumin masih berusaha untuk mencari desa tersebut meski
pandangannya dihalangi oleh kabut.
“Aigoo
, kabut disini cukup tebal dan menyulitkanku untuk mencari desa
tersebut,” kata Xiumin tanpa menatap teman-temannya. Sementara Xiumin
terus mencari desa tersebut, Seohyun memandang cemas kearah Sehun yang
terus meringis kesakitan. Luka tersebut memang dapat diobati dengan
mudah , hanya saja .. Obatnya tidak ada disini , andai saja ada yang
membawa kotak P3K mungkin luka di kaki Sehun tidak akan semakin parah
seperti sekarang.
“Ahhh..” Sehun kembali meringis kesakitan, sedangkan ke-10 lelaki lainnya dan Seohyun memandang Sehun dengan cemas.
“Xiumin-ssi,
apakah kau sudah menemukan desanya ?” tanya Seohyun. Namun, sepertinya
Xiumin masih terfokus untuk mencari desa tersebut sehingga ia tak
mendengar pertanyaan Seohyun.
“Ahh
! Itu desanya ! Aku menemukannya !” seru Xiumin yang sukses membuat
ke-11 lelaki lainnya dan Seohyun tersenyum lebar , mereka buru-buru
berjalan menuju desa yang dilihat oleh Xiumin dan sesampai mereka disana
, mata mereka terbelalak lebar ketika melihat desa tersebut begitu
nyaman. Desa tersebut dipenuhi oleh tanaman yang indah , bunga-bunga
bermekaran , dan lain-lain.
“Tak kusangka disini ada tempat yang nyaman seperti ini,” kata Seohyun sambil tersenyum lebar.
“Hey,
cepatlah cari sebuah tempat duduk atau rumah penduduk disini. Aku tak
tahan lagi, ini sangat sakit,” kata Sehun setengah berteriak. Ucapan
Sehun sukses membuat Seohyun dan ke-11 lelaki lainnya tersadar dari
lamunan mereka dan buru-buru kembali berjalan untuk mencari rumah kecil
para penduduk desa yang nyaman tersebut.
“Itu
ada cukup banyak rumah disana,” seru Kai sambil menunjuk kearah
beberapa rumah di dekat sawah. Mereka semua mengangguk dan buru-buru
berjalan kearah salah satu rumah tersebut.
TOK TOK TOK
Xiumin
–sebagai salah satu orang paling tua diantara mereka—mewakilkan mereka
untuk mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama kemudian, pintu dibuka
oleh seorang ahjumma yang berusia sekitar 34 tahun.
“Ah,
permisi ahjumma. Ada teman kami yang terluka, bisakah kami beristirahat
disini sebentar saja ?” tanya Xiumin sambil mengulum sebuah senyuman.
“Ah
, ada yang terluka ? Boleh. Silahkan. Ngomong-ngomong apa obat yang
perlu disiapkan ?” tanya ahjumma tersebut. Xiumin berkata, “hanya perlu
menyiapkan baskom yang diisi air , handuk, dan kotak P3K. Apa ada ?”
“Ah
ada, silahkan masuk dan duduk di sofa dulu ya,” kata ahjumma tersebut
dengan ramah lalu Xiumin menghembuskan nafas lega dan menoleh kearah
teman-temannya dan menyuruh mereka untuk membawa Sehun masuk terlebih
dulu karena Sehun tampak kesakitan.
Sehun menghembuskan nafas lega saat ia duduk di sofa dan perlengkapan untuk mengobati lukanya sudah disiapkan.
“Eh,
itu biar aku saja yang memberikan obat pada luka Sehun. Ini juga
salahku yang membawa kalian masuk kesini lagikan , padahal kalian sudah
capek-capek keluar dari kota ini,” kata Seohyun yang langsung mengambil
alih pada baskom berisi air dan handuk yang baru saja mau diambil oleh
Suho.
“Ah
, baiklah. Tapi jujur saja , ini juga bukan sepenuhnya salahmu kok. Ini
juga salah kami yang lalai menghalangimu untuk masuk kesini,” kata Suho
lembut sambil tersenyum manis. Seohyun menggeleng dan berkata, “tidak.”
Mendengar
Sehun kembali meringis, Seohyun pun berusaha menghentikan obrolannya
dan langsung membersihkan darah yang mengalir di kaki Sehun.
“Ahh , hati-hati, Seohyun-ssi,” kata Sehun sambil menahan rasa sakit. Seohyun tersenyum dan berkata, “mianhae.”
Setelah
selesai memberikan obat di luka Sehun. Seohyun pun langsung menempati
sofa kecil di samping Sehun sementara ke-11 lelaki lainnya bermain-main
dengan sendirinya.
“Sehun-ssi,” panggil Seohyun pelan. Sehun pun menolehkan kepalanya menatap Seohyun dengan tatapan yang seolah berkata ‘apa?’
“Sebetulnya
.. Mengapa kau dan teman-temanmu berdiri di depan toko coklat itu ? Aku
tahu kau bermaksud menghalangi orang masuk kesitu tetapi untuk apa ?”
tanya Seohyun , itulah pertanyaan yang sedari tadi menjanggal diotaknya.
“Huff
, kau ini tidak mengerti juga. Apa kau tidak lihat akibatnya karena kau
masuk ? Kau lihatkan kami yang tidak masuk ke dalam toko itupun ikut
masuk kemari lagi,” kata Sehun. Seohyun mengerutkan dahinya bingung , ia
masih belum bisa mencerna dengan baik penjelasan Sehun.
Sehun
menghela nafas kasar dan berkata, “begini lho, maksudku orang yang
sebelumnya pernah masuk kemari itu juga akan ikut masuk kemari lagi jika
ada orang yang masuk kemari. Maka itu kami menjaga pintu masuknya agar
kami tidak ikut masuk lagi, untuk keluar dari sini saja membutuhkan
waktu yang sangat lama.” Setelah mendengar penjelasan Sehun, Seohyun pun
mengangguk mengerti.
Seohyun
pun menyadari sebuah hal , “kalau begitu yang membawa kalian kedalam
masalah itu diriku ?” tanya Seohyun bingung. Sehun yang memang merasa
kesal karena ia harus masuk kesini untuk kedua kalinya pun dengan kasar
menjawab, “tentu ! Kau ini tidak bisa dibilangi sih, maka itu kami juga
ikut kedalam masalah ini lagi.”
Seohyun menunduk dan menggigit bibirnya kasar, “mianhae,” kata Seohyun lirih.
Sehun
sadar dengan perubahan nada bicara Seohyun , ia terdengar melemah dan
semakin lirih lalu tak lama kemudian gadis itu terisak.
Sehun
yang belum pernah membuat gadis menangis sebelumnya pun kebingungan
dengan apa yang harus ia lakukan, ia menggaruk kepalanya yang tidak
gatal dan berkata pelan, “mianhae, aku terlalu kasar.”
To be continued